“Oh, kenapa ngga—” dan belum selesai aku berbicara, Edwin melanjutkan dengan, “Tapi ribet nanti kalo dia ngajak pacaran, duh duh”. Menghela nafas, dia berbicara, “Aku dulu pernah main sama Joshua,—” kakak kandungnya, bukan gay, seingatku—“cuma sekali. Bokep jepang Kepalanya perlahan bergerak maju mundur mengulum kontolku.Di belakangku Timo masih terus menghisapi kontol Budi. Puas bercerita tentang dirinya sendiri, Edwin terdiam sebentar sebelum membuatku kaget dengan bertanya, “Kalian mirip kalau dilihat- lihat. “Tunggu,” katanya. Timo memberinya sinyal untuk bergantian.Budi berhenti dan menghampiri Timo. Dia tidak terlihat lelah sedikitpun, kontolnya masih tegak di antara kedua pahanya. Lalu dengan tangan kananku kuarahkan kepala Budi mendekati kontolku. Melihat kita berdua, Budi kembali ke dalam kamar, menutup pintu.Aku bergegas melepas tanganku dari Timo dan berdiri hendak menyusul Budi, tapi Timo menghentikanku. Dia menggenggam tanganku lagi dan menarikku untuk duduk di sofa. Sepeninggalan Budi, Edwin langsung meluncurkan segala macam pertanyaan dan pernyataan. Timo berjalan keluar dari kamar, badannya tinggi, kontolnya yang lemas bergelantungan.




















