Ada cairan putih kental membasahi kain dalam celanaku dan tembus keluar. Batang kemaluan disedot-sedot… nikmat, dan aku meremas-remas buah dadanya yang kenyal dan asing rasanya. Bokeb Dan tangan kirinya langsung saja ditekan dan digesek-gesekkan dengan cepat di tonjolan celanaku. Untung saja gitar itu langsung kusambar dan siap-siap mau memainkan, sekalian untuk menekan batang kemaluanku yang gerakannya semakin liar. Wah… seram juga orang ini. Nanti ada ceritanya. Lama aku berusaha mengeluarkannya, dan akhirnya keluar juga. Aku pun menunggu sampai semua beres, walau sampai bel istirahat. Aku ambil keputusan turun dari lantai depan papan tulis yang memang lebih tinggi 20 cm dari lantai bawah bangku. Nafasnya semakin tidak beraturan. Dia berdiri di belakangku dengan tangan kirinya menopang meja sebelah kiri merapat ke pahaku, dan tangan kanannya bergerak di kanan badanku mengambil lembaran kertas buram. Aku takut batang kemaluanku akan bergerak-gerak lagi. Nanti malam kembalikan di tempatku..!” potongnya. Apalagi bila dia menatapku dengan pertannyaan, “Sudah mengerti..?” dengan sedikit mendenguskan nafasnya ke arah dadaku.Terasa hangat.




















