Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya.. Bokeb Kok kita pegang-pegangan sih..” Pipit setengah berbisik. Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Murni tadi. Begitulah akhirnya kami sering bertemu dan menikmati hari-hari indah menjelang keberangkatan Pipit ke Malaysia. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Ingin rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil ibunya sudah datang kembali. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang.. Pipit.. Pipit menatapku. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Aku menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma




















