“Kayaknya bete banget lagunya.”Aku menghentikan petikan gitarku.“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”Nah lo! Bokep crot Nafasnya memburu. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya melonjak-lonjak. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Aku cuman tersenyum kecut.“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. “Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Maya tertunduk malu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.“Sudah bilang sama Ersa kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra.”
“Trus si Ersa gimana?




















