“Wah nanti aku ditembak,” kataku. Bokepindo Seandainya aku pilih secara acak, aku kira ok-ok saja.“Mas pesen ini dulu, yang lainnya nanti bisa diteruskan,” kata si perempuan mbak-mbak yang kutaksir berumur 35 tahun. Aku tawari minum dan snack tapi ditampik oleh Amei. Dia beranak 2 dan suaminya bekerja sebagai guru. “Wah semuanya di sini enak kok Mas,” timpalnya.Sambil aku mengamati menu yang disodorkan, mata ini tidak bisa konsentrasi, karena beberapa perempuan berseliweran. Aturan di situ, kita tidak bisa langsung nenteng pilihan kita. Dia lalu memelukku sambil tidur telungkup diatasku.Tengkukku diciuminya dan dia memberi kode gerakan agar aku berbalik telentang. Warung makan itu agak unik, karena ruang untuk makannya berada di dalam rumah, seperti ruang makan rumah biasa, hanya saja meja makannya ada sekitar 3 dengan kursi-kursi.Dengan gaya percaya diri aku langsung membelok dan duduk di salah satu meja. Kita harus menunggu di lobby untuk menjemputnya lalu digandeng ke kamar.Setelah masalah harga dan cara pembayaran di sepakati, aku cabut duluan ke hotel.




















