Akupun segera mengendorkan serangan, menahan diri. “Ayo sarapan Dit. Bokepindo Dan sebentar kemudian Tante kembali membawa gelas berisi air putih.Dan kami duduk bersisian di pinggir ranjang. Siapa tahu aku nanti bisa nyenggol-nyenggol dia sedikit-sedikit.Meraba-raba seperti orang buta menjaga jangan sampai terantuk ke dinding aku kembali ke sofa mengambil selimut dan bantal, lalu kembali meraba-raba ke arah Tante Ratih di pintu kamarnya. Untuk lima menit pertama aku menguasai bola dan lapangan sepenuhnya. Pulangnya dia takut, lalu ibuku menyuruh aku mengantarnya sampai ke pintu rumahnya.Dan inilah permulaan cerita. “Saya kan dapat lagi ya Tante”, tanyaku menggoda. Tante Ratih semakin tersengal-sengal, rangkulannya di punggung dan kepalaku semakin erat. Berlainan betul dengan adik-adik dan ibumu”, kata Tante Ratih selagi dia menyendok nasi ke piring. Rupanya dia tidak mengira aku akan masuk, dan cepat-cepat menurunkan sebelah kakinya dari sandaran lengan sofa, tapi aku sudah sempat melihat celah kangkangan kedua pahanya yang putih padat dan celana dalam merah jambu yang membalut ketat meqinya yang bagus cembung.




















