Pipit membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Bokeb Kan capek nyetir mobil..” katanya. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Tanganku turun dan meremas pantatnya yang padat. Kali ini Pipit sudah seperti terbang menggelinjang, pantatnya mengeras bergoyang searah jarum jam padahal mukaku masih membenam diselangkangannya. Ugi juga mau ke sana mau main banyak teman. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Mas.. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Tungguin sebentar ya..”
Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Pipit. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Pipit. Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Geli enak tentunya. Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa.




















