Punggungnya melengkung indah. Mas yang tanggung jawab, yaa..”, katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi. Bokeb Pada saat aku membawanya menuju tempat tidur, Eksanti melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku membenamkan batang kejantananku kuat-kuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Tapi sampai kapan? “Mas ini mau nyari Mas Yoga atau..”, kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya. “Aku ingin mandi bersamamu, Mas,.. Sungguh, aku semakin bernafsu melihatnya. Mata Eksanti tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Eksanti tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Eksanti. Mulutku meraup bibirnya. Aku terkejut, namun cuma sesaat setelah menyadari, ternyata Eksantilah yang ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku. Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. “Terus, Yoga biasanya jam berapa pulangnya, Santi?”, tanyaku sekedar berbasa-basi.




















