Bibirnya itu lho! Saat lidahku menyapu cuping telinganya yang bagus dan napasku menghembus tengkuknya ia mengeluh pelan sambil menggigit bibir sementara tangannya liar menggerayangi dada dan punggungku. Bokeb Bukan urusanmu, gumamnya.Asap rokok dihembus kuatkuat. Ia seakan tahu apa yang kuinginkan dan membiarkan aku berbuat semauku. Mmm.. Dengan otak mampet begini, mana bisa ide cemerlang muncul.Tan, nggak capek? Sebelah tungkainya mulai naik melingkungi pinggangku. Asal janji nggak main cakar, perih nih.. Selebihnya, sepi! Ia memekik dan tertawa, suara tawanya merdu. Peluh menitik di pelipisnya. tanyanya. Saat makan siang pun Tanti makan dengan diamdiam. Jemarinya mencengkam lenganku saat kususuri sisi lehernya dengan bibirku. Saat itu baru kusadar betapa putih kulitnya dibanding kulit sawo matang gelapku. Kutangkap kedua tangan mungilnya, kubawa ke atas kepalanya dan kutindih dengan lenganku.Jangan galakgalak, dong, bisikku di telinganya. Ia diam. kreatif.. Wah, hebat. Bibirnya itu lho!




















