Astaga. Dia menjual, bukan mengemis. Bokep india Anak laki-laki itu juga ikutan merokok. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. Pikiranku mendadak kacau. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Aku serius soal ini. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Di dekat semak-semak, tak terlalu jauh dari tepi jalan, di tempat yang agak gelap. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Dingin kota ini makin terasa. “Terima kasih banyak, Pak. Itu cuma dugaanku. Gila. Tidak tampak rasa takut dalam dirinya. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. “Terima kasih banyak, Pak. Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Tapi tidak semua orang di jalan raya itu lucu. Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga




















