Jadi ia terangsang. Harum rambut dan parfumnya mulai merasuki hidungku. Bokeb Aku tetap berkeras. Dia tidak meremas, atau menggosok terlalu keras. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Hari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus. Putingnya. Tangannya masih tetap mengelus penisku, tapi sungguh, tangan itu tidak mampu membuat aku nikmat terus-menerus. Dan dia mendesis.“jangan keras-keras,” bisiknya sangat lirih. Hhhm, sungguh mulus. semuanya serba ringan dan melayang. Paling tidak dengan jariku.“Ga papa …”,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Aku membuka tas dan mengambil sweater. Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Oh tidak. Kain jeansnya untungnya kain yang lemas, sehingga aku bisa merasakan tekstur renda BHnya. Tipikal keluarga Jakarta, berumur di akhir 30an dan baru saja mempunyai anak. Tubuhku aku condongkan sedikit ke depan, dan kemudian aku bergeser ke arahnya. Tubuhnya menegang.Aku kembali mengelusnya. Dan itu membuatku melayang.Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. OOoh, mantab.“Besar …..,” desisnya. Kami berpandangan sebentar.




















