“Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa. Bokepindo “Hhh..!!”
“Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa.” pikirku.Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Rasa takut dan kesepian menyerang hati dan pikiranku. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.“Terima kasih..Erik.” Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar. Kenapa katamu?! Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi. “Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.“Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya..”
Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. “Hhh..!!”
“Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa.” pikirku.Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.




















