Kesempatan tidak akan datang dua kali. Creambath? Bokeb Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Membuatku tidak berani. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon.Ia kerja di sana? Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yang.., cepat-cepat berkemas. Hap. Hitam. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Hawin.., aku mau makan dulu. Bodoh, bodoh, bodoh.Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Dari perut turun ke paha. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam.Tapi belum tersentuh kepala juniorku.




















