Tanganku segera meraih gunung kembar yang kini bergantung terayun-ayun.”ouuh…Den…oohhh”, rintih ibu menemani geramanku…tubuh kami kembali berkilauan basah oleh keringat.Ronde kedua ini lebih lama berlangsung…ibu menghujamkan wajahnya di bantal untuk meredam suara pekikan ketika orgasmenya tiba..bagaimana munkin wanita sehangat ini bisa ditinggal ayah mertua, pikirku. Kembali ku hentak-hentakan pinggulku hingga ranjang tua itu berderit-derit, membuat apa yang diatasnya berguncang-guncang tak terkecuali anakku yang tengah tidur dengan nyenyaknya.Ibu menggigit jari mencegah rintihan keras keluar dari mulutnya. Bokeb Seutas senyum kecilnya menyambut kehadiranku. Ibu beranjak berdiri hendak berjalan menuju kamar, namun pinggangnya segera kutangkap. “Den….jangan”, ujarnya lirih…ketika satu tanganku mencoba masuk menyelusup celana dalamnya, ia memegang pergelangan tanganku yang sayangnya sudah berada di atas gundukan bulu-bulu hitam lebat di bawah pusarnya. Kali ini ibu tak malu-malu mengeluarkan suara rintihan nikmat. Ibu masih berbaring di depan TV, sementara anakku sudah tertidur di sampingnya. Dan ibu tidak protes.




















