Lenguhan halus terdengar dari bibirnya. Langsung memuntahkan air dengan jumlah yang besar ke bumi.Ada sebuah golok yang tertancap di pohon pisang, langsung aku ambil, dan memotong selembar daun pisang yang panjang dan lebar, tapi kurang cukup untuk melindungi tubuh kami dari air hujan. Bokeb “Bangetttt.”Ah rasa dingin yang dihasilkan oleh hujan ini sudah enggak ada artinya lagi buatku. Senyumnya merekah, sesekali dia mengingat hari-hari menyedihkan yang dialaminya sebelum 13 hari lalu. Mulutnya yang mungil melahap seluruhnya lalu, menyedot-nyedot sedikit dan melepaskan kulumannya sejenak.“Hihihi enak ya ternyata, kenyel gitu kayak bakso,” wajah Sava memerah, dia menjulurkan lidahnya ke arahku.“Tapi jangan dimakan ya !”“Gak kok Qora cayang, hhhmmmm,” dalam hitungan detik Sava kembali melumat, lalu tangannya memberi kode agar aku gak hanya diam menikmati kulumannya. Dan ada sepi yang selalu mengintai dari balik dinding kamar siap mencengkram rindu ini.*****
“Ih bener-bener gak nyangka deh bisa selalu jadi yang nomor satu setiap minggunya,” begitulah komentar Sava saat kita bertemu, dia bergelayut manja di pundakku, “makasih ya udah dukung




















