Waktu itu kami banyak mengobrol dan menurut Diah dia anak orang kaya yg tinggal di daerah Pondok Indah, dan dia ke karaoke cuma untuk bersenang-senang, bukan untuk duit.Dia itu freelance, dan kami percaya dengan dia, soalnya si Peter tak pernah memperhatikan dia sebelumnya (si Peter hampir setiap hari nongkrong di karaoke tersebut).Aku sendiri sibuk berpikir, maunya apa sich ini anak? Bokepindo Otak aku bekerja keras, bagaimana caranya bisa main ya? Aku mengintip sedikit, terlihat pintu-pintu garasi yg tertutup, gila… penuh sekali. Hmmm… sangat halus. Suara si Peter yg sangat bagus bercampur baur dengan suaranya Hendi yg sumbang. Peter yg berada di bagian bawah tak mau kalah, terlihat dia menaikkan rok mini si Diah hingga ke atas pinggulnya. Mau bersuara pada tak berani soalnya roomboy-nya masih di depan pintu. Hmmm… sangat halus. Asyik juga.“silakan duduk,” kata seorang tante dengan dandanannya yg menor.Aku menebak ini pasti germonya yg biasa dipanggil Mami.“Mau pesan berapa wanita?” tanya si Mami.“Pesan…” pikir aku, seperti barang saja.“Tolong panggilin 8 orang wanita




















