Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Shit! Bokep hijab Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Creambath? Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh.Ia menekan-nekan agak kuat. Jari tangan mulai dingin. “Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya




















