“ Oh ya. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Bokeb Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka ?,
“ Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek, ” sang supir menggerutu sambil memberikan kembaldian. Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. ” suara itu mengagetkanku. ”
Yes..! Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Dadaku berguncang. ” ujarnya merajuk. Ah, selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu dia menjamah betisku, dan selesai. Ke bawah lagi: Turun. Dia mencari-cari. Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. ” kataku. ” katanya lagi seperti iri pada Fera. Mbak Fera merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Kujilati payudaranya, dia melenguh. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan. Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan,




















