Aku menemukan sebungkus lilin, dan menyalakannya dengan korek api yang tergeletak di sebelahnya. Bokepindo Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang, mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku.Dan kesempatan itu tak kusia-siakan. Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan.Aku makin membara dan membara. membuka tali di kanan-kiri dan melorotkannya perlahan, membiarkan dua buah dadanya menyembul menantang,“kau boleh menyentuhnya,” Berdebar jantungku.Tubuhku seperti mendidih. Ah, aku merasa Mbak Marissa seperti sengaja ingin membuatku cemburu.Suatu sore, aku tengah membantu ibuku mengangkat jemuran di bagian belakang rumah ketika pintu di tembok belakang rumah diketuk-ketuk. Ia juga kadang menatapku sekilas, dan melempar senyum kecil, yang menurutku teramat hangat itu. Dan kali ini aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, karena aku berpikir Mbak Marissa sengaja membiarkan aku melihatnya. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah dagau kosong di gunung




















