Aq meringis menahan sensasasi yg waow..! Aq meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Bokeb jendelanya jangan di buka lebar. ujarku sekenanya.Aq dibimbing ke sebuah ruangan. Tapi masih terhalang kain celana. Badannya berbalik lalu melangkah. Aq menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Ah. Ya sekarang..! Aq memegang teteknya. kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Kuusap sisa cream. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Jakarta yg panas membuatku kegerahan di dalam angkot. Mbak Iin.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruang sebelah. Terganggu wanita muda yg di ruang sebelah yg kadangkadang tanpa tujuan jelas bolakbalik ke ruang pijat.Dari jarak yg begitu dekat ini, aq jelas melihat wajahnya. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.




















