Dia tertawa pelan, “Mas, kenapa sih?”, ia memandangku lembut. “Maafkan aku, Santi.. Bokep barat “Kamu menyesal, Santi?”, ujarku sambil mencium pipinya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Eksanti, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Pipinya masih tampak memerah bekas cumbuanku tadi. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya. Celana jeans ketat yang dipakai telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekuk pantat yang sempurna.Puas memandangi tubuh Eksanti, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku tubuh Eksanti kembali, sehingga kini berhadap-hadapan denganku. “Tapi janji Mas yaa.., cuma yang ini aja”, katanya lagi.Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang harus aku janjikan lagi. aku menyayanginya. Telapak tangan mencengkram buah dada Eksanti. Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yang aku rasakan di sepanjang kulit batang kejantananku, jari-jemariku yang nakal mulai masuk dari




















