Pada hari yang telah disepakati, Sari akan menunggu di jalan “D” pukul 17.10. Bokepindo Sari menarik sendiri sepasang ‘cup’-nya ke atas sehingga sepasang bukit putih itu samar-samar tampak. Lagi-lagi Sari menolak sambil sedikit ngambek. “Kita minum dulu ke sini, ya..?”, ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda. “Sama Mas dong..”. Aku coba menawar jamnya agak malam saja. Lidahnya tak melewatkan seincipun batang kemaluanku. Aku melayang. Sari menarik perhatianku karena paha mulusnya “diobral”. Tempat ini memang biasa macet. Sementara Sari membersihkan mulutnya dengan tissu. Aku menyetir dengan posisi penisku tetap terbuka tegang. “Bu Maya cuma mau nebeng sampai halte”, kata Sari seolah mengetahui kekhawatiranku. Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan. “Ayolah.., Sar, sebentar aja, sekali aja..”. Kulihat Sari berdiri di tepi jalan, tapi tak sendirian. Gelap dan sepi. Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan.




















