Sambil mengangkat gayung, lamunanku pun melayang mengingat kejadian semalam. Ku dekatkan tubuhku ke bibir ranjang di mana Mbak Sekar berada. Bokepindo “Grathil!,” begitu bentaknya sambil menghalau tanganku. Mungkin mereka sibuk dengan proyek ‘mengatasi kebocoran’ atau memang telah terkurung di kamar masing-masing, menikmati dinginnya musim penghujan di penghujung bulan januari. “Sini, kakak mandiin,” ujar Kak Sekar menawarkan bantuan. Suasana sepi yang memagut, memaksaku untuk terpejam, meski terasa sulit. Meski telah sangat pelan aku menaiki tempat tidur tersebut, tak urung, pendengaran nenek yang masih sepeka Radar, mampu mendeteksi kedatanganku. Masa bodoh, aku toh tidak bisa seratus persen boleh di salahkan. Berjingkat aku masuk ke bilikku, takut mengganggu nenek yang sedang tidur. Berkali-kali, aku menelan ludah, berusaha membasahi kerongkonganku yang terus menerus menjadi kering, karena sapuan angin panas yang semakin tak teratur ku keluarkan, kadang lewat hidung, kadang lewat mulut, hingga membuatku sering tersengal karenanya. Posisinya yang telentang,




















