Setiap kali sambil menahan nikmat dia berbisik di telingaku “Jangan buru-buru ya sayang, …….. Dan juga aku jagoan di lapangan sepakbola. Bokeb “Nanti Tante kendorin”. Aku gembira karena aku menguasai permainan dan lima menit lagi berlalu. Yang sebenarnya seperti sudah saya katakan sebelumnya, saya selalu gugup dan tidak tenteram kalau berdekatan dengan Tante Ratih (tapi tentu saja ini tak kukatakan pada ibuku). Tante Ratih semakin tersengal-sengal, rangkulannya di punggung dan kepalaku semakin erat. Ya pantaslah, karena cantik dan dikejar-kejar banyak pemuda, bahkan orang berumur juga, dia jadi sombong, mentang-mentang. Sampai si perempuan meninggal karena penyakit bengek, mereka tidak berteguran.Tetangga itu sudah tiga hari dikubur tak jauh di belakang rumahnya, sewaktu suami Tante Ratih, Om Hendra berangkat ke Singapur untuk urusan bisnes pasokannya. Dua butir telur mentah itu beserta madu lebah campurannya kulahap dan lenyap kedalam perutku dalam waktu singkat.




















