Tangannya halus. Sial. Nonton bokep Lalu pindah ke pangkal paha. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Dari perut turun ke paha. Ah masa bodo. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Wajahku mulai panas. Bahannya tipis, tapi baunya harum. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Aku tertipu. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar.




















