Nikmat banget. Bokep hijab Mbak Titis menjilati penisku sampai bersih. “Ma…maaf bu…”, kataku terbata sambil tetep berusaha menarik celanaku. Aku perhatikan beliau turun dr mobil dan ketika melintas di dekatku“Selamat siang, Bu. Terus terang, aku ga suka ama bosku. Siapa tau Mbak Titis minta ditemenin. “Mas, nanti malam jangan lupa matiin pemancarnya ya.”, pesan Pak Damian padaku. Ibu Titis ga langsung masuk ke rumah tapi mampir dulu ke studio. Setelah, mematikan semua komputer dan lampu, segera ku kunci semua ruangan. Payudara yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku kini terpampang jelas di hadapanku. Aku berlutut lagi dan kini yang menjadi sasaranku adalah pahanya. Abis itu aku duduk lagi di meja marketing.Selang 1 jam, Ibu Titis udah nyampe lagi di studio. Bibir Mbak Titis lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu. Aku harus menahan tubuhnya karena seperti mau terjatuh ke lantai. Mbak mulai mendesis lagi. Mbak cantik sekali”, bisikku pelan. Hisapanku di vagina Mbak Titis semakin liar. “Oh… Ya udah mas.




















